Media Informasi dan tempat berkumpulnya anak Nyanglan.

Sabtu, 20 November 2010

Pelestarian Lingkungan di Tumpek Wariga

Pelestarian Lingkungan di Tumpek Wariga

Annaad bhavanti bhuutaani.
Prajnyaad annasambhavad.
Yadnyad bhavati parjanyo Yadnyah karma samudbhavad.
(Bhagavad Gita.III.14)
Maksudnya: Makhluk hidup berasal dari makanan. Makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan berasal dari hujan. Hujan berasal dari yadnya. Yadnya itu adalah karma.   Salah satu Sloka di Kitab Bhagawad Gita ini dikutip oleh Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat, Drs I Ketut Wiana. M.Ag. Menurutnya, sloka tersebut mengingatkan bahwa tanpa tumbuh-tumbuhan semua makhluk bernyawa tidak dapat melangsungkan hidupnya di bumi ini. Mengapa? Karena bahan pokok makanan hewan dan manusia adalah tumbuh-tumbuhan. Adanya tumbuh-tumbuhan adalah yadnya dari bumi dan langit kepada semua makhluk hidup ini.   Lantas bagaimana hubungan pelestarian lingkungan dengan Hari Raya Tumpek Wariga? Ditanyakan demikian, pria yang juga sebagai Ketua Prodi Brahma Widya Pasca Sarjana IHDN Denpasar ini mengatakan di dalam perayaan Hari Tumpek Wariga atau Tumpek Uduh/Pengarah, yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Wariga ini merupakan upacara yang ditunjukan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai ‘Bhatara Sangkara’, sebagai penjaga tumbuh-tumbuhan di alam semesta ini. “ Karena itu, umat Hindu di India memiliki ''Hari Raya Sangkara Puja'', sedangkan umat Hindu di Bali memiliki Tumpek Wariga sebagai hari untuk memuja Dewa Sangkara,”tandasnya.  Kemasan luar perayaan Sangkara Puja di India dan hari Tumpek Wariga di Bali tentunya berbeda, tetapi maknanya tidak berbeda. Kedua hari tersebut sebagai suatu proses ritual yang sakral untuk mengingatkan umat manusia agar selalu memohon tuntunan Tuhan dalam mengembangkan dan melindungi tumbuh-tumbuhan sebagai sumber makanan makhluk hidup yang paling utama.   Di Bali pada zaman kerajaan ada Lontar Manawa Swarga yang mencantumkan tentang perlindungan kepada tumbuh-tumbuhan. Dalam Lontar Manawa Swarga dinyatakan, barang siapa menebang pohon tanpa izin raja, maka akan dihukum denda lima ribu kepeng. Demikian juga dalam struktur pemerintahan kerajaan ada satu jabatan yang mengurus tumbuh-tumbuhan yang disebut Menetri Juru Kayu. Mungkin mirip menteri pertanian dan kehutanan dewasa ini.   Demikian besarnya perhatian umat di masa lampau pada tumbuh-tumbuhan. Dewasa ini sesungguhnya secara formal perhatian umat manusia pada kehidupan tumbuh-tumbuhan juga sangat besar. Namun, orientasinya lebih banyak untuk mendapatkan keuntungan ekonomis jangka pendek. Bahkan, keuntungan tersebut pun distribusinya tidak berkeadilan. Mereka yang berkecimpung dalam bidang pertanian dalam arti luas selalu mendapatkan kontribusi yang sangat kecil kalau dibandingkan dengan yang lainnya. Petani yang menghasilkan beras, sayur-sayuran, buah-buahan, penghasilannya sangat kecil kalau dibandingkan dengan pedagang beras, sayur atau buah-buahan.   Apalagi bidang yang lainnya. Padahal semua orang tidak mungkin bisa hidup tanpa hasil pertanian itu. Rerainan Tumpek Wariga ini yang datang setiap 210 hari hendaknya jangan dibiarkan terus bergulir dengan tema yang penuh gema namun kosong makna. “Marilah kita maknai lebih nyata. Misalnya dengan membuat program enam bulanan dari Tumpek Wariga ke Tumpek Wariga berikutnya ada hal-hal yang nyata yang kita lakukan terhadap perbaikan nasib tanaman-tanaman yang tumbuh di Bali ini,”sarannya.   Pihaknya menegaskan, dalam perayaan Tumpek Wariga bukan hari otonan tumbuhan. Namun upacara untuk mengapresasi para tumbuhan ini dengan melakukan pemeliharaan secara baik. “Tidak akan ada artinya jika memuja Tuhan dengan upacara besar, namun tidak ikut menjaga isi dari segala ciptaanya, termasuk tumbuh-tumbuhan,”tegas Wiana.(Wyn-Edy ne-)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar